Kamis, 28 April 2011

KEMITRAAN BIDAN DENGAN DUKUN



A.            Latar Belakang

Berdasarkan Survei Demografi dan kesehatan Indonesia  (SDKI) dan data Biro Pusat statistic (BPS), angka kematian ibu  dalam kehamilan dan persalinan diseluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinan (dr. Nugraha, 2007).
Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetric. Pelayanan kesehatan tersebut di nyatakan sebagai bagian integral dari pelayanan dasar yang akan terjangkau seluruh masyarakat.
Untuk mewujudkan tercapainya Angka Harapan Hidup ( AHH ) dari 63,37 menjadi 73,95 pada tahun 2008. Penurunan Angka Kematian Bayi merupakan progaram prioritas yang perlu mendapatkan perhatian karena kematian bayi mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap peningkatan Angka Harapan Hidup. Berdasarkan hasil analisa pada tahun 2005 jumlah kematian Bayi yang utama adalah 40% BBLR, 23% Asfyksia, 7% Infeksi, 1% Tetanus Neonatorum dan 29% penyebab lain.
Tingginya jumlah kematian tersebut sangat berkaitan erat dengan rendahnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan ( 61,41% ), sehingga apabila ibu dan bayi mengalami kegawat daruratan dalam proses persalinan tidak mendapatkan penanganan yang optimal. Hal yang sangat mempengaruhi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain sosial budaya, kepercayaan yang kuat terhadap dukun sebagai penolong persalinan serta masalah biaya. Untuk meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebagai salah satu upaya menurunkan kematian bayi, maka dilaksanakan Kegiatan Persalinan yang Aman dan Sehat Melalui Pola Kemitraan Bidan dan dukun, serta Pembentukan Kelompok Peduli Persalinan Aman dan Sehat.
Masalah kesehatan bagi penduduk di kota maupun di perdesaan Indonesia masih saja merupakan masalah yang pelik. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya program kesehatan yang diterapkan dan terus dikembangkan belum berjalan dengan baik, baik itu program kesehatan baru maupun program kesehatan hasil modifikasi program lama. Banyak pelayanan kesehatan yang belum memadai. Indikator yang penting adalah kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. Tak dapat disangkal lagi, ilmu kedokteran modern telah berkembang pesat sehingga meninggalkan konsep lama yang dibatasi oleh penggunaan teknis medis modern dalam melawan penyakit.
Upaya bidang kesehatan masyarakat seperti peningkatan taraf kesehatan perorangan, pendidikan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, dan keluarga berencana harus juga memperhitungkan pengetahuanpengetahuan lain mengenai kebiasaan, adat istiadat, dan tingkat pengetahuan traditional medicine masyarakat setempat. Seringkali, program kesehatan menemui kegagalan karena dicoba untuk dijalankan hanya semata-mata dengan berpedoman kepada pertimbangan teknis medis yang ’kaku’. Salah satu program yang belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan, adalah pertolongan persalinan. Hampir di seluruh Indonesia masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bayi.

B.            Tujuan Penulisan
Adapun tujuan tujuan penulisan makalah ini adalah mengetahui bentuk kemitraan antara bidan dengan dukun.


KEMITRAAN BIDAN DENGAN DUKUN
Masalah kesehatan bagi penduduk di kota maupun di perdesaan Indonesia masih saja merupakan masalah yang pelik. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya program kesehatan yang diterapkan dan terus dikembangkan belum berjalan dengan baik, baik itu program kesehatan baru maupun program kesehatan hasil modifikasi program lama. Banyak pelayanan kesehatan yang belum memadai. Indikator yang penting adalah kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. Tak dapat disangkal lagi, ilmu kedokteran modern telah berkembang pesat sehingga meninggalkan konsep lama yang dibatasi oleh penggunaan teknis medis modern dalam melawan penyakit.
Upaya bidang kesehatan masyarakat seperti peningkatan taraf kesehatan perorangan, pendidikan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, dan keluarga berencana harus juga memperhitungkan pengetahuanpengetahuan lain mengenai kebiasaan, adat istiadat, dan tingkat pengetahuan traditional medicine masyarakat setempat. Seringkali, program kesehatan menemui kegagalan karena dicoba untuk dijalankan hanya semata-mata dengan berpedoman kepada pertimbangan teknis medis yang ’kaku’. Salah satu program yang belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan, adalah pertolongan persalinan. Hampir di seluruh Indonesia masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bayi.
Tenaga dukun bayi sejak dahulu kala sampai sekarang merupakan pemegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan. Dalam lingkungan dukun bayi merupakan tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait dengan reproduksi wanita. Ia selalu membantu pada masa kehamilan, mendampingi wanita saat bersalin, sampai persalinan selesai dan mengurus ibu dan bayinya dalam masa nifas.
Dukun bayi biasanya seorang wanita sudah berumur ± 40 tahun ke atas. Pekerjaan ini turun temurun dalam keluarga atau karena ia merasa mendapat pangglan tugas ini. Pengetahuan tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya berdasarkan pengalaman dan kurang professional. Berbagai kasus sering menimpa seoarang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai pada kematian ibu dan anak.
Dalam usaha meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan anak maka tenaga kesehatan seperti bidan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan, selain itu dapat juga mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta pertolongan pada bidan. Dukun bayi yang ada harus ditingkatkan kemampuannya, tetapi kita tidak dapat bekerjasama dengan dukun bayi dalam mengurangi angka kematian dan angka kesakitan (Prawirohardjo, 2005)
.

A.    Pengertian
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan non-medis seringkali dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai dukun beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada dasarnya dukun bersalin diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang atau keluarganya dan biasanya sudah berumur ± 40 tahun ke atas ( Prawirohardjo, 2005).
Dukun bayi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya, menolong proses persalinan seseorang, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain sebagainya. Dukun bayi biasanya juga selain dilengkapi dengan keahlian atau skill, juga dibantu dengan berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu mereka. Proses pendampingan tersebut berjalan sampai dengan bayi berumur 2 tahunan. Tetapi, pendampingan yang sifatnya rutin sekitar 7 – 10 hari pasca melahirkan
B.     Cara-cara yang digunakan oleh para dukun bayi

Tak berbeda dengan seorang bidan, dukun beranak melakukan pemeriksaan kehamilan melalui indri raba (palpasi). Biasanya perempuan yang mengandung, sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya dibidan perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek bidan untuk berkonsultasi. Sedangkan dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan control dilakukan lebih sering. Dukun menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun non fisik terhadap ibu dan janinnya. Agar janin lahir normal, dukun biasa melakukan perubahan posisi janin dalam kandungan dengan cara pemutaran perut (diurut-urut)disertai doa.
Ketika usia kandungan 4 bulan, dukun melakukan upacara tasyakuran katanya janin mulai memiliki roh.hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan halus. Pada usia kandungan 7 bulan, dukun melakukan upacara tingkeban. Katanya janin mulai bergerak meninggalkan alam rahim menuju alam dunia, melalui kelahiran. Calon ibu mendapat perawatan khusus, selain perutnya dielus-elus, badannya juga dipijat-pijat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malah disisir dan di bedaki agar ibu hamil tetap cantik meskipun perutnya makan lama makin besar.

C.     Faktor-faktor Penyebab Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Dukun Bayi daripada Bidan
Masih banyak masyarakat yang memilih persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan dukun bayi daripada bidan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1.      Kemiskinan
Tersedianya berbagai jenis pelayanan publik serta persepsi tentang nilai dan mutu pelayanan merupakan faktor penentu apakah rakyat akan memilih kesehatan atau tidak. Biasanya, perempuan memilih berdasarkan penyedia layanan tersebut, sementara laki-laki menentukan pilihan mereka berdasarkan besar kecilnya biaya sejauh dijangkau oleh
masyarakat miskin.
Walaupun biaya merupakan alasan yang menentukan pilihan masyarakat miskin, ada sejumlah faktor yang membuat mereka lebih memilih layanan yang diberikan oleh dukun. Biaya pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa untuk membantu persalinan lebih besar daripada penghasilan RT miskin dalam satu bulan. Disamping itu, biaya tersebut pun harus dibayar tunai. Sebaliknya, pembayaran terhadap dukun lebih lunak secara uang tunai dan ditambah barang.
2.      Masih langkanya tenaga bidan di daerah-daerah pedalaman
Sekarang dukun di kota semakin berkurang meskipun sebetulnya belum punah sama sekali bahkan disebagian besar kabupaten, dukun bayi masih eksis dan dominan.
3.      Kultur budaya masyarakat
Masyarakat kita terutama di pedesaan, masih lebih percaya kepada dukun bayi daripada kepada bidan apalagi dokter. Rasa takut masuk rumah sakit maih melekat pada kebanyakan kaum perempuan. Kalaupun terjadi kematian ibu atau kematian bayi mereka terima sebagai musibah yang bukan ditentukan manusia. Selain itu masih banyak perempuan terutama muslimah yang tidak membenarkan pemeriksaan kandungan, apalagi persalinan oleh dokter atau para medis laki-laki. Dengan sikap budaya dan agama seperti itu, kebanyakan kaum perempuan di pedesaan tetap memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan meskipun dengan resiko sangat tinggi.
4.      Bidan desa kurang Proaktif

Departemen Kesehatan (Depkes) dengan program Pendidikan Bidan Desa merupakan suatu upaya untuk menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu). Program Pendidikan Bidan Desa menjadi program unggulan Depkes yang dilakukan dengan memberikan pendidikan tambahan satu tahun sesudah pendidikan SPK (Sekolah Pendidikan Kebidanan) bagi calon didiknya.
Program ini tidak luput dari kesulitan karena beberapa alasan:
a)      calon bidan desa usianya terlalu muda, kebanyakan belum menikah,
b)      program satu tahun tidak cukup untuk bisa menangani persalinan sendiri, tidak jarang dalam waktu pendidikan calon bidan desa hanya mengalami satu kali persalinan sendiri atau bersama kelompok,
c)      banyak bidan desa merangkap menjadi mahasiwa perguruan tinggi pada sore harinya di tempat lain. Otomatis mereka tidak siap menolong persalinan pada sore dan malam hari,
d)     Pendidikan di kota memberikan dampak bahwa bidan desa lebih menyenangi kehidupan di kota daripada di tempat terpencil di desa.
Keadaan ini menyebabkan hubungan yang kurang sehat antara masyarakat, khususnya ibu dan dukun bayi yang sudah ada di masyarakat dengan bidan desa yang merupakan pendatang baru. Selain kurang proaktif\ bidan desa juga masih kurang percaya diri untuk membaur dengan masyakat. Perubahan sikap dan perilaku dari bidan desa untuk menyesuaikan diri di masyarakat memerlukan waktu.

D.    Masalah yang dapat ditimbulkan apabila persalinan ditolong oleh Dukun Bayi
Masalah yang ditimbulkan bila persalinan ditolong oleh selain tenaga-medis cenderung tinggi akibat pertolongan persalinan tanpa tenaga & fasilitas memadai. Karena persalinan masih ditangani oleh dukun beranak atau peraji, kasus kematian ibu saat melahirkan masih tetap tinggi. Pertolongan gawat darurat bila terjadi kasus perdarahan atau infeksi yang diderita ibu yang melahirkan, tidak dapat dilakukan.
Definisi masyarakat yang masih menggunakan tenaga bidan bayi tentang mutu pelayanan berbeda dengan definisi standar medis. Kelemahan utama dari mutu pelayanan adalah tidak terpenuhinya standar minimal medis oleh para dukun beranak, seperti dengan praktek yang tidak steril(memotong tali pusat dengan sebilah bambu dan meniup lubang hidung bayi yang baru lahir dengan mulut). Selain itu, pertolongan persalinan oleh dukun sering menimbulkan kasus persalinan, diantaranya kepala bayi sudah lahir tetapi badannya masih belum bisa keluar atau partus macet, itu disebabkan karena cara memijat dukun bayi tersebut kurang profesional dan hanya berdasarkan kepada pengalaman.
E.     Usaha Untuk membangun Kemitraan Bidan dengan Dukun Bayi
Kemitraan adalah suatu bentuk kerjasama antara bidan dengan dukun dimana setiap kali ada pasien yang hendak bersalin, dukun akan memanggil bidan. Pada saat pertolongan persalinan tersebut ada pembagian peran antara bidan dengan dukunnya. Sebenarnya, selain pada saat persalinan ada juga pembagian peran yang dilakukan pada saat kehamilan dan masa nifas, tetapi memang yang lebih banyak diutarakan adalah kerjasama pada saat
persalinan.
Peranan bidan lebih ditekankan kepada persalinan dan masa nifas. Pada saat persalinan, sudah semestinya peran bidan porsinya lebih besar dibandingkan dengan peran dukun. Selain menolong persalinan, bidan pun dapat memberikan suntikan kepada pasien yang membutuhkannya atau dapat dengan segera merujuk ke rumah sakit jika ada persalinan yang gawat atau sulit. Peran dukun hanya sebatas membantu bidan seperti mengelus-elus tubuh pasien, memberikan minum bila pasien membutuhkan dan yang terutama adalah memberikan kekuatan batin kepada pasien. Kehadiran dukun bayi sangatlah penting karena pasien beranggapan bahwa bila saat melahirkan ditunggui oleh dukun, maka persalinan akan berjalan lancar.
Usaha-usaha peningkatan pelayanan kesehatan seperti yang tercermin dalam program dukun terlatih itu memang bukan bertujuan untuk menghilangkan peranan yang dimainkan oleh sistem perawatan kesehatan yang lama dan menggantinya dengan sistem perawatan kesehatan yang baru. Pendidikan yang diberikan dalam program dukun latih itu justru terwujud sebagai pengakuan untuk menyelenggarakan (enforcement) pelayanan kesehatan kepada lembaga dukun bayi, khususnya penyelenggaraan proses pertolongan persalinan bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah dimana fasilitas pelayanan kesehatan baru sangat terbatas. Lebih dari itu, dengan pendidikan yang diberikan, dukun bayi dianggap mampu mengantikan kehadiran fasilitas kesehatan yang baru yang diharapkan dapat meningkatkan taraf kesehatan penduduk.
Pendidikan/kursus dukun bayi juga dimaksudkan untuk pemberian pengetahuan yang melengkapi sifatnya, dengan harapan dapat menurunkan resiko persalinan dan meningkatkan harapan hidup bayi dan ibunya. Dengan demikian, tugas-tugas pelayanan medis dilimpahkan pada dukun bayi yang memang tinggal bersama masyarakat setempat.
Namun yang perlu diperhatikan, pengetahuan dan alih teknologi membutuhkan waktu sebelum pengetahuan dan teknologi tersebut benar-benar jadi milik masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang dikemukan oleh Michael Winkelman, ada tiga faktor penghalang dalam pelaksanaan atau penerapan program yang disebut the three delays yaitu:
a)         rintangan budaya (cultural barrier)
Setiap kelompok masyarakat memilki budaya yang berbeda. Ada sebagian yang memilih untuk melahirkan dengan dukun karna menurut kebudayaannya itu lebih baik. Sehingga keberadaan dukun lebih dipandang berpengaruh dibandingkan keberadaan Bidan di dalam masyarakat tersebut.
b)        rintangan sosial (social barrier)
Rintangan sosial ini berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat.
c)         rintangan psikologis (psychological barrier)
Masyarakat lebih percaya dan nyaman dengan dukun karena pendekatan yang dipakai dukun adalah dengan menjalin interaksi. Dibandingkan dengan bidan, dukun lebih peka terhadap ibu hamil, karena dukun yang mencari ibu hamil akan tetapi kalau Bidan, ibu hamil yang mengunjunginya jadi secara psikologis bumil lebih nyaman dengan dukun.
Ketiga hal tersebut yang perlu dicermati dalam penyusunan program pelatihan agar pengetahuan dan teknologi yang dilatihkan menjadi milik masyarakat setempat.
F.      Program Kemitraan Bidan Dukun


Program Kemitraan Bidan – Dukun merupakan salah satu program sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Definisi Kemitraan Bidan – Dukun sendiri adalah suatu bentuk kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada.
Keberhasilan dari kegiatan kemitraan Bidan – Dukun adalah ditandai dengan adanya kesepakatan antara Bidan dan dukun dimana dukun akan selalu merujuk setiap ibu hamil dan bersalin yang datang. serta akan membantu bidan dalam merawat ibu setelah bersalin dan bayinya. Sementara Bidan sepakat untuk memberikan sebagian penghasilan dari menolong persalinan yang dirujuk oleh dukun kepada dukun yang merujuk dengan besar yang bervariasi. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam peraturan tertulis disaksikan oleh pempinan daerah setempat (Kepala Desa, Camat).
Langkah – langkah program kemitraan Bidan – Dukun :
I. Tingkat Propinsi : 1. Penyusunan Juknis; 2. Sosialisasi kepada dinkes Kab/Kota dan Lintas Sektor; 3. Fasilitasi ke Kab/Kota dan 4. Evaluasi
II. Tingkat Kab/Kota : 1. Sosialisasi kepada lintas sektor; 2. Pembekalan Teknis dan 3. Pemantauan
III. Tingkat Kecamatan/Puskesmas : 1. Sosialisasi kepada lintas sektor tingkat kecamatan dan desa; dan 2. Pemantauan dan Evaluasi
IV. Tingkat Desa : 1. Sosialisasi dan kesepakatan; 2. Pembekalan dan magang dukun; 3. Dana bergulir; Pertemuan rutin bidan – dukun (andy yussianto).





BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa bila persalinan ditolong oleh bidan biayanya mahal sedangkan bila ditolong oleh dukun bisa membayar berapa saja. Penyebab lain mengapa bidan tidak dipilih dalam membantu persalinan adalah bahwa selain umurnya masih relatif muda, bidan dipandang belum memiliki pengalaman melahirkan dan kebanyakan belum dikenal oleh masyarakat.
Peranan dukun bayi dalam proses kehamilan dan persalinan berkaitan sangat erat dengan budaya setempat dan kebiasaan setempat. Dari konsep ’the three delays’, salah satu faktor kematian ibu dan bayi adalah terlambatnya pengambilan keputusan yang diambil oleh keluarga dan masyarakat termasuk dukunnya. Maka wajarlah jika terjadi kematian ibu dan bayi karena akibat dari terlambatnya mengambil keputusan dari keluarga, masyarakat dan dukun, sehingga keluarga, masyarakat dan dukun ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan ibu dan bayinya.
Kemitraan merupakan salah satu solusi untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Pendekatan ini terutama akan menguntungkan daerah-daerah terpencil dimana akses terhadap pelayanan kesehatan sangat terbatas.

2.    Saran
Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca khususnya bagi para bidan dalam menjalani tugas dan tanggung jawabnya.Sehubungan dengan masalah yang terkait diatas,penulis juga mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, Rina., Dukun Bayi Dalam Persalinan Oleh Masyarakat Indonesia, Makara, Kesehatan, Vol. 13, No. 1, Juni 2009: 9-14
http://id.wikipedia.org/wiki/Dukun_bayi, diakses pada tanggal 15 april 2011
Prawirahardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP

Jumat, 08 April 2011

Dokumentasi Kebidanan


Teknik Pendokumentasian Kebidanan
1.     Teknik Pendokumentasian Narasi
A.    Pengertian
                 Bentuk naratif merupakan pencatatan tradisional dan bertahan paling lama serta merupakan sistem pencatatan yang fleksibel. Karena suatu catatan naratif dibentuk oleh sumber asal dari dokumentasi maka sering dirujuk sebagai dokumentasi berorientasi pada sumber. Sumber atau asal dokumentasi dapat siapa saja dari petugas kesehatan yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi.
     
                 Setiap narasumber memberikan, hasil observasinya, menggambarkan aktifitas dan evaluasinya yang unik. Cara penulisan ini mengikuti dengan ketat urutan kejadian/kronologis. Biasanya kebijakan institusi menggariskan siapa mencatat/melaporkan apa, bagaimana sesuatu akan dicatat dan harus dicatat dimana. Ada lembaga yang menetapkan bahwa setiap jenis petugas kesehatan harus mencatat di formulir yang telah dirancang khusus, misalnya catatan dokter, catatan perawat atau fisioterapi atau petugas gizi.

            Ada juga institusi yang membuat rancangan format yang dapat dipakai untuk semua jenis petugas kesehatan dan semua catatan terintegrasi dalam suatu catatan. Berhubung sifat terbukanya catatan naratif (orientasi pada sumber data) sehingga dapat digunakan pada setiap kondisi klinis. Tidak adanya struktur yang harus diakui memungkinkan bidan/perawat mendokumentasikan hasil observasinya yang relevan dan kejadian secara kronologis.






B.     Keuntungan catatan naratif
1.      Pencatatan secara kronologis memudahkan penafsiran secara berurutan dari kejadian dari asuhan/tindakan yang dilakukan
2.      Memberi kebebasan kepada bidan untuk mencatat menurut gaya yang disukainya
3.      Format menyederhanakan proses dalam mencatat masalah, kejadian perubahan, intervensi, rekasi pasien dan outcomes
4.      berorientasi pada sumber informasi tenaga kesehatan
5.      mengikuti urutan kronologis
6.      ada ketentuan siapa, apa dan dimana pencatatannya yang membedakan masing-masing nakes punya formulir sendiri
7.      dapat di gunakan di setiap kondisi klinik
8.      bersifat terbuka dan fleksibel
9.      kebebasan gaya dalam pencatatan
10.  mudah ditulis dan dikenal bidan
11.  memudahkan penafsiran secara berurutan
12.  proses pencatatan sederhana

C.    Kelemahan catatan naratif
1.      Cenderung untuk menjadi kumpulan data yang terputus-putus, tumpang tindih dan sebenarnya catatannya kurang berarti
2.      Kadang-kadang sulit mencari informasi tanpa membaca seluruh catatan atau sebagian besar catatan tersebut
3.      Mengabdikan sistem menguburkan pesanan dimana mencatat masalah pasien secara suferpisial/dangkal daripada mengupasnya secara mendalam
4.      Perlu meninjau catatan dari seluruh sumber untuk mengetahui gambaran klinis pasien secara menyeluruh
5.      Dapat membuang banyak waktu karena format yang polos menuntun pertimbangan hati-hati untuk menentukan informasi yang perlu dicatat tiap pasien
6.      Kronologis urutan peristiwa dapat mempersulit interpretasi karena informasi yang bersangkutan mungkin tidak tercatat pada tempat yang sama
7.      Mengikuti perkembangan pasien bisa menyita banyak waktu
2.     Teknik pendokumentasian Flow sheet /checklist
            flow sheet memungkinkan bidan untuk mencatat hasil observasi atau pengukuran yang dilakukan secara berulang yang tidak perlu ditulis secara naratif, termasuk data klinik klien tentang tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu), berat badan, jumlah masukan dan keluaran cairan dalam 24 jam dan pemberian obat.

            Flow sheet yang biasanya dipakai adalah catatan klinik, catatan keseimbangan cairan dalam 24 jam, catatan pengobatan catatan harian tentang asuhan keperawatan. Flow sheet merupakan cara tercepat dan paling efisien untuk mencatat informasi. Selain itu tenaga kesehatan akan dengan mudah mengetahui keadaan klien hanya dengan melihat grafik yang terdapat pada flow sheet.

            Oleh karena itu flow sheet lebih sering digunakan di unit gawat darurat, terutama data fisiologis.  Lembar alur yang unik, berupa kesimpulan penemuan , termasuk flowsheet instruksi dokter/perawat, grafik, catatan pendidikan dan catatan pemulangan klien. Rangkaian informasi dalam sistem pendekatan orientasi masalah. Catatan ini dirancang dengan format khusus pendokumentasian informasi mengenai setiap nomor dan judul masalah yang sudah terdaftar.

            Flow sheet sendiri berisi hasil observasi dan tindakan tertentu. Beragam format mungkin digunakan dalam pencatatan walau demikian daftar masalah, flowsheet dan catatan perkembangan adalah syarat minimal untuk dokumentasi pasien yang adekuat/memadai.









3.     Teknik Pendokumentasian dengan Kardeks
1.      Pengertian
            Kardeks merupakan model pendokumentasian yang tradisional  ipergunakan di berbagai sumber mengenai informasi pasien yang disusun dalam suatu buku. Biasa juga disebut sebagai sistem kartu. Suatu sistem dokumentasi dengan menggunakan serangkaian kartu dan membuat data penting tentang klien, ringkasan problem klien dan terapinya. Contohnya : kartu ibu, kartu anak, kartu KB dan lain sebagainya

2.       Komponen

a.      Data pasien, meliputi :
1.      Nama, alamat, status perkawianan.
2.      Tanggal lahir.
3.      Social security sumber.
4.      Agama dan kepercayaan.

b.       Diagnosa Kebidanan, berupa daftar prioritas masalah.
c.       Pengobatan sekarang atau yang sedang dilakukan, meliputi :
1.      Perawatan dan pengobatan.
2.      Diet.
3.      Intravenous therapy.
4.      Konsultasi.

d.      Test Diagnostik, meliputi :
1.      Jadwal.
2.      Lengkap dengan hasilnya.
3.      Kegiatan – kegiatan yang diperbolehkan, berupa kegiatan sehari-hari.


3.      Kerugian

1.      Diisi tidak lengkap.
2.      Tidak cukup tempat atau ruang dalam memasukkan data yang diperlukan.
3.      Tidak up to date.
4.      Tidak dibaca oleh bidan sebelum mereka memberikan pelayanan atau asuhan.

4.     Teknik Pendokumentasian dengan Komputer
1.      Pengertian
      Model pendokumentasian komputerisasi adalah sistem dokumentasi yang mencatat dengan menggunakan tehnologi canggih dari hasil atau penemuan yang menyimpang dari keadaan normal atau standar.

2. Keuntungan komputerisasi
1.      Lebih mudah dibaca.
2.      Meningkatkan komunikasi antara tim petugas kesehatan.
3.      Kemungkinan salah atau kelupaan lebih sedikit dengan kata lain
4.      ketepatan pencatatan lebih tinggi, karena secara otomatis komputer memanggil semua data yang ada bila file pasien tertentu dibuka dan tidak bisa dimasukkan data bila ada hal yang tidak sesuai dengan yang terprogram.
5.      Hemat waktu dan biaya (bila sistem itu sudah berjalan).
6.      Pelayanan pasien bisa lebih cepat karena banyak pesanan dapat disampaikan lewat komputer dan komunikasi antar unit bisa dipantau lewat sarana computer.
7.      Meningkatkan komunikasi antara tim kesehatan.
8.      Lebih memudahkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan peningkatan mutu.



b. Kerugian
1.      Kurang terjaminnya kerahasiaan pasien.
2.      Kurangnya SDM untuk sistem komputerisasi dan perlu latihan khusus.
3.      Membutuhkan modal awal yang sangat tinggi dan menuntut keahlian khusus untuk menciptakan programnya dan perangkat kompuer yang dibutuhkan.
4.      Ketergantungan pada alat atau teknologi tinggi dan juga segala kekurangan dan konsekuensinya.
5.      Ada perhitungan atau perbandingan khusus untuk keperluan alat atau unit komputer dan jumlah pasien.